Rabu, 22 Agustus 2018

📖 SIMPLY ARABIC-QUR'ANIC LEARNING (seven)
🔍Source:  Mu'jam Mufrodat alfazil Qur'an, Fiqh Lughah
🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language)

No Imitate Love of Zulaikha
    Love is a perfect word to express how beauty life we have. It heals every pain and erases every tears for the sacrifice. When Rasul loves Allah, he willing to thrown by the gravel in his da’wah. When Khadija loves Allah, she willing all her wealth fisabilillah. When Ali loves Rasul, he allows himself to be foe of Abdul Wuud. When Abu Bakr loves Rasul, he protects him from any dangers even has to face more threatening risk. Love can change all fear perception.
    But in other case, love seems like a wild animal with its piercing nails, may kills us. Just like a history of Yusuf and Zulaikha before she asks tawbah. Ya, we know how beauty face and his attitude that’s why Zulaikha seduces him to fall down into the sin. But iman called him to say : “I seek refuge in Allah”
    Let’s see the style of affection which explained in Qur’anic Dictionary :
  1. A love between man and woman
  2. Loving thing/person for their benefit
  3. Loving eminently things
As Muslim, we should deny that first style of love and affection except in marriage, because only marriage ables to create a halal way in relationship activity.
     Don’t imitate the way Zulaikha loves Yusuf, Qur’an sayed in surah Yusuf (30): شغفها حباً. Syaghafa means lovesick, this word also defined in Fiqh Lughah as very deep feeling when love  like burn our hearts. And feel so comfort to get this feel. But, the important thing we have to attent is when Zulaikha does’t care  her iman and lose her iffah.
    This short message specially deliver to all my Muslim sister. Having iffah to keep ourselves among boy is the way to save our prestige. Don’t let iffah only written on your book, we need an iman’s charging to call it back when we stray from our track. Yes, put Allah and Rasul firstly before everything. So, let’s do it together, let’s learn Islam more and more. I remind you and myself of course..
📖 ARABIC-QUR'ANIC LEARNING (six)
🔍Source: Jurnal tafsir, Syarah Alfiyah Ibnu Malik juz 1&2, Lesikologi Bahasa Arab, Mu'jam Mufrodat alfazil Qur'an
🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language)


Samakah Wasath dengan Moderat?

    Kata wasath/wasathiyah dan moderat sudah tak asing lagi di telinga kita. Banyak sekali wacana dan forum diskusi yang berbicara tentang Islam wasathiyah yang kemudian di terjemahkan istilahnya menjadi Islam moderat. Dua kata ini sekilas sama dalam terjemahnya, bahwa ketika wasath bermakna tengah maka moderat adalah kata yang pas untuk dihadirkan sebagai sinonimnya.

    Mempelajari kata wasath dan moderat baiknya terlebih dahulu memperhatikan ‘madlul/acuan yang dimaksud’ sebagaimana yang terdapat dalam pembelajaran ilmu semantik. 

    Dalam semantik kita akan mengenal ‘semantic triangle’ atau mutsallats al-ma’na yaitu segitiga bermakna yang menghubungkan tiga aspek dasar: kata, pikiran, dan acuan. Bahwa setiap kata yang didengar manusia akan masuk kedalam otak sebagai proses untuk mendapatkan ‘acuan’ kata yang dimaksud. Misalnya, si A berkata : “Ambilkan kapur!”, maka ketika si B mendengar kata ‘kapur’ kata itu masuk kedalam otaknya dan muncullah bayangan benda seukuran bolpoin, berbentuk tabung, berwarna putih, dsb. 

    Setiap kata pasti memilki acuan yang dimaksud tergantung apakah sudah ada pengetahuan sebelumnya tentangnya atau tidak. Bila selama ini menyamakan antara wasath dan moderat, berarti info yang didapatkan sebatas pemaknaan kata saja, tidak masuk kedalam beragam definisi dan penjabaran ulama. 

    Hal ini perlu kita perhatikan, bahwa ummat Muslim tak boleh terjebak dengan kesimpulan instan. Hingga kemudian membebek tanpa sebab musabab.

    Sebagian besar orang mempercayai jati diri seorang Muslim sebagai seorang moderat melalui ayat dalam surat Al-Baqoroh : 143. Ayat tersebut berbunyi (و لقد جعلناكم أمّة وسطاً)  “dan Kami telah jadikan kalian sebagai ummat pertengahan” yaitu ummat yang tidak ekstrim kiri dan kanan, ramah dan toleran, serta tidak kaku dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an.

Kata wasathan dijelaskan dalam kitab Mu’jam mufrodat yang di dasarkan pula pada bunyi ayat sebelumnya bahwa umat Islam sebagai ummat pertengahan  adalah ummat yang tdk memiliki sifat tafrith (kaum Yahudi yg membunuh para nabinya)  dan ifrath (kaum Nasrani yang menjadikan  nabinya sebagai  Tuhan) Justru Islam menyeru kepada kesaksian bahwa Allah adalah satu2nya sembahan dan Muhammad adalah Rasul. Dengan begini makna wasath adalah wujud ketaatan.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan kata ‘wasathan’ yang terdapat dalam ayat ini sebagai adil dan pilihan. Bahwa ummat Muslim adalah ummat yang adil dan merupakan ummat pilihan yang kelak akan menjadi saksi bagi ummat yang lain di yaumil akhir. Imam Syafi’i dalam kitabnya ar-Risalah juga menyampaikan bahwa ‘wasathan’ berarti taat. Sebab kalimat selanjutnya dalam ayat itu berbunyi 
(وما جعلنا القبلة الّتي كنت عليها إلاّ لنعلم من يتبع الرسول ممّن ينقلب عليه)  
Pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram tak lain hanya untuk menguji apakah kaum Muslim taat pada Rasul-Nya atau tidak. Berbuat adil adalah bentuk ketaatan kepada Allah, tidak adil maka tidak taat. Begitulah kesimpulannya. 

Wasath dalam ayat ini tidak berposisi sebagai maf'ul fii atau dzaraf yang artinya diantara (dua sesuatu), meskipun ia merupakan lafadz dzaraf. Namun keadaan i’rab manshubnya dikarenakan ia menjadi na’at/kata sifat yang bertujuan memberikan pujian bagi kata yang disifatinya, dalam alfiyah disebutkan :
فانصبه بالواقع فيه : مظهرا # كان، و إلا فانوه مقدرا

Sehingga ‘wasath’ juga tak bisa dimaknai ‘tengah’ yang berarti diantara dua kubu. Imam Qurthubi dalam menafsirkan ayat ini berkata bahwa bukan termasuk ‘wasath’ atau pertengahan (lafadz yang disebutkan dalam ayat tersebut) apabila berada pada sesuatu diantara dua sesuatu, misalnya : an-Nur 31 ‘perintah memakai kerudung yang dijulurkan sampai ke dada’ dan ancaman bagi yang menampakkan aurat, kemudian kita mengambil jalan tengah dengan tetap memakai kerudung meski  tidak sesuai dengan kriteria dalam qs. an-Nur 31.

Selain itu kata 'wasathan’ hanya bersandar pada kata 'ummat’ bukan agama. Yang disifati wasath adalah ummat, bukan agamanya. Dn semakin salah lah penyebutan Islam wasathiyah karena akan bertentangan dgn perintah masuk Islam secara Kaffah, mengambil seluruh hukum dan konsekuensinya. Islam pun tak mengenal pilihan tengah2 dlm menjalankan hukum-hukum Nya.

Sedangkan moderat adalah kata yang diambil dari bahasa Latin, yang kemudian dalam Oxford didefinisikan pengertiannya ‘not radical or excessively right or left wing’
Hohoo… moderat tdk bisa d sandingkan dgn wasath ya, yuk belajar
Jadi, jgn gagal paham ..

Kamis, 09 Agustus 2018

Haru Biru Kota Jember Tinggalkan Nama 1000 Pesantren

Oleh : Nida Husnia R (Aktivis Mahasiswa Jember)

    ‘Bulan Berkunjung ke Jember’ adalah slogan yang menjadi nafas prestasi karnaval fashion Jember (JFC) hingga namanya bisa mewangi di kancah internasional. Berawal dari sebuah ide perayaan menyambut Hari Kemerdekaan, JFC menggebrak dunia karnaval yang diusung oleh desainer Dynan Fariz. Kali ini JFC ke 17 akan dilaksanakan pada 7-12 Agustus dengan tema ‘ASIALIGHT’.

    Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan Asialight berdekatan dengan tagline Asian Games sehingga JFC juga turut serta meramaikan semangat Asian Games 2018 dengan beragam kostum nuansa sejarah dan budaya Asia. 10 defile terpilih yang mewakili benua Asia diantaranya adalah lambang Kujang yang menjadi Pusaka Nusantara, Thailand dengan 1000 pagodanya, Shogun sebagai panglima para samurai di kerajaan kuno Jepang, dan lain sebagainya.

    JFC juga berhasil meraih beragam penghargaan sebagai Best National Costume pada 2014 di Polandia dan Jepang, 2015 di Amerika dan Polandia, dan 2016 di Filipina.

    Benarkah hal itu menjadi prestasi membanggakan bagi kota Jember?

    Menanggapi hal ini, ada sebuah pergeseran budaya yang disadari atau tidak, ternyata sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup rakyat Jember. JFC tak sekedar bicara masalah income yang menguntungkan bagi kota Jember, atau kebanggaan dengan hadirnya reporter asing yang meliput, sehingga kita memandang bahwa JFC tak ada salahnya, membuat jalanan macet sudah menjadi hal yang lumrah.

Namun bukankah dahulu kita mengenal Jember dengan nama ‘1000 Pesantren’ dimana budaya ngaji dan kajian itu menjadi biasa. Kini keberlangsungan JFC mengganti nama Jember dari ‘1000 Pesantren’ menjadi ‘Jember kota karnaval’ yang  juga mulai mengalihkan life style masyarakatnya. Setelah menjadi icon fashion dunia, Jember juga mulai menambah proyek-proyek mall berkelas.

Sebagai kota karnaval, Jember kemudian menggalakkan ajaran Islam moderat dimana kajian-kajian yang hendak diadakan harus dibatasi temanya agar tidak keluar dari unsur Islam moderat, yang mempersilahkan hidup dengan fashion dan fun tapi tetap melaksanakan rutinitas ibadah, sehingga yang melanggar aturan ini akan dinamai ‘radikal’. Bila ada sebuah kajian yang mengusung tema bahasan Islam Kaffah segera di-stop, karena masyarakat akan menyadari dampak liberasisasi.

Yang katanya menabung segudang prestasi tak kunjung membuat kondisi Jember membaik. Pada Juli lalu Polsek Bangsalsari menggrebek area judi sabung ayam di Gambiran, Curahkalong. Juga terjadi penggelapan dana talangan haji yang dilaporkan seorang warga kec. Sukorambi setelah mengalami kerugian 48 juta. Pada 2 Agutus juga tercatat penangkapan 2 tersangka mantan pejabat Jember dalam korupsi dana hibah yang menyebabkan kerugian negara sebesar 1.045 miliar.
Selain itu, JFC tidak menghabiskan dana yang sedikit, bahkan bila ingin menjadi bagian dari peraga kostum JFC harus turut mengeluarkan dana yang besar. Setelah itu, kostum JFC bila sudah tidak digunakan lagi akan dilelang dengan harga kisaran harga jutaan.

Sayang sekali Jember tak lagi dikenal sebagai kota santri, akhirnya gaya hidup bebas pun meracuni masyarakat terutama kaum mudanya. Ambisi menjadi model akhirnya muncul, dengan iming-iming berangkat ke berbagai kota dan negara untuk promo label ‘Jember kota karnaval’.

Mirisnya, JFC bahkan pantas untuk ditangisi.

Selasa, 07 Agustus 2018

Mahasiswa Tolak Jokowi, Demokrasi Hanya Pandai Buat orang Berjanji



Oleh : Nida Husnia R. (Aktivis Mahasiswi Jember)
    Bila pemuda menjadi tonggak perubahan, sudah seharusnya kritik kebijakan dilakukan. Sebab kampus bukan sembarang lembaga pendidikan, darinya lahir akademisi-akademisi yang akan menentukan ‘harga’ bangsa dimata dunia. Tapi pahamilah bagaimana rezim era kapitalis bekerja, yang salah dibela yang benar dicerca.
    Menjadi bagian daripada ekspresi kegelisahan dan amarah rakyat atas ketidak adilan yang ditegakkan, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi atau himpunan dari beberapa kampus melakukan aksi penolakan atas rencana kedatangan presiden Jokowi.
    Sebagaimana yang terjadi di Tuban pada Maret 2018, forum mahasiswa yang terdiri dari Organisasi Mahasiswa Ekstra (Ormek) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Tuban melakukan aksi demonstrasi untuk menolak kedatangan Jokowi. Mereka beranggapan ada tidaknya Jokowi tak memberi kiprah apa-apa pada masyarakat.(kumparan.com)
    Hal yang serupa juga terjadi di Universitas Muhammadiyah Makassar pada Juli 2018. Sejumlah mahasiswa HMI melakukan aksi tolak Jokowi dengan bentangan spanduk berisi tuntutan atas janji-janji Jokowi-JK.
    Sebagai orang nomor 1 di Indonesia  Jokowi juga ditolak kehadirannya dalam Muktamar IMM ke 18 yang dilaksanakan di kampus Universitas Muhammadiyah Malang pada 1 Agustus. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk memperjuangkan amanat penderitaan rakyat, dimana rakyat dilanda himpitan ekonomi, doyan impor dan jarang ekspor, kriminalisasi ulama dan para tokoh, rezim anti kritik, dll.
    Semakin marak kabar rakyat jelata yang diadili dengan pukulan dan tinju, sebab mereka mencuri roti dan ubi. Harga barang curiannya hanya berkisar dibawah 20 ribu, tapi bagaimana dengan “bedebah negri”? Apa kabar “perampok rakyat” yang penjaranya full AC dan kulkas? Tidur tenang dengan perut kenyang, sedangkan lapas pencuri sandal pengap dan gelap.
    Aspirasi rakyat ditolak mentah-mentah, masihkah kita mau menjadi barisan mahasiswa yang pasif dan buta terhadap rusaknya kepemimpinan era Jokowi? Bukankah sudah sangat jelas tipuan-tipuan kampanye dan bukti ingkar janjinya?
    Maka memang benar apa yang dikatakan dalam al-Qur’an, bahwa ketika kita tak menggunakan hukum yang telah Allah tetapkan pastilah kita berada dalam penghidupan yang sempit. Tetap berada dalam demokrasi sama dengan bunuh diri secara perlahan, menyiksa diri dengan asas-asas demokrasi yang pada hakikatnya menjatuhkan kita ke jurang yang sama. Mengapa?
    Sebab dalam sistem demokrasi, para pengusungnya membuat sejumlah aturan hidup yang harus diberlakukan dalam setiap kehidupan seluruh warga dunia. Akhirnya semua orang lupa bahwa manusia adalah makhluk Allah yang lemah yang tak mungkin mengerti kapasitas aturan hidup yang tepat dan kualiti. Terlebih lagi seluruh aktivitas kita kelak akan diminta pertanggung jawaban oleh Yang Maha Kuasa
    Sejauh ini kita melihat demokrasi sebagai sebuah sistem yang sudah sempurna. Perangkat aturannya sudah nampak tepat untuk dilaksanakan, dan kita berusaha untuk patuh dalam menjalankan segala macam aturan itu. Masalahnya, demokrasi itu diciptakan oleh manusia yang sama-sama punya nafsu dan bebas dari unsur syariat. Sehingga ia ‘mengarang’ tatib itu untuk menguntungkan dirinya sendiri, dan jelas bertentangan dengan Islam.
    Lagi-lagi kita lupa bahwa kita adalah seorang hamba, melalaikan hukum-hukum Allah namun dengan sukarela berjalan sesuai trek demokrasi. Sungguh kita telah ditipu.
    Beriringan dengan kapitalisme, demokrasi pun tak berhasil menjadikan suara rakyat sebagai pertimbangan turunnya kebijakan. Buktinya BBM naik, rakyat mana yang ingin? Sembako naik, masyarakat mana yang mau? Gas LPG naik, siapa yang berkehendak? Semua itu bukan hasil dari kerja srap aspirasi rakyat melainkan wujud tamak para penguasanya.
    Cukup sudah, tak inginkah anda keluar dari zona melelahkan ini?
   
   

    

Minggu, 05 Agustus 2018

📖SIMPLY ARABIC-QUR'ANIC LEARNING (five)


🔍Source: Mu'jam Mufashal fi Ulum al Balaghah, Mulakhos Qowaid Lughah Arabiyah
🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language)

Memperjelas Lawan Kita Sesungguhnya
  Tak sedikit kita dapati para Muslim yang menyatakan kesiapannya berada di pihak Kuffar. Mereka secara langsung menunjukkan topeng kemunafikan d hadapan saudara muslimnya. Dukungan yg diberikan beragam bentuknya, ada yg dengan menghadiri undangan utk menjadi pembicara dlm acara mereka, ada yg dengan membantu melancarkan target mereka, mjd agen2 mereka dalam balutan nama ustad dan kyai.
  Namun yg perlu kita pahami adalah siapa lawan kita sesungguhnya. Sehingga kita tak salah target dalam membidik lawan yg justru akan menimbulkan permasalahan baru. Kita begitu getol menjadi oposisi saudara sesama muslim sj, tanpa sadar musuh sesungguhnya malah kita biarkan melenggang dengan anggun.
  Berkaitan dgn hal ini Allah telah berfirman:
"ولن ترضى عنك اليهود و لا النصارى حتى تتبع ملتهم"
Dalam ilmu sastra bhs Arab (Balaghah), terdapat bab 'Taroqqiy’ yg berbicara ttg lafadz yg menunjukkan suatu ambisi. Dalam ayat ini, ambisi kaum Yahudi dan Nasrani ditandai dgn kata 'حتى’ yg dalam unsur gramatika nya ‘حتى’ digunakan untuk menunjukkan adanya TUJUAN AKHIR.
  Beragam upaya dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani utk mengalihkan ke tsiqohan kaum muslim dari agama nya sendiri. Entah itu dengan fashion, fun, food, bahkan war. Pada intinya, tiada cita2 lain selain membuat kaum Muslimin tunduk pada Millah mereka.
  Ayat tersebut juga menggunakan kata 'لن’ yaitu ‘peniadaan’ yg digunakan pada fiil mudhari’ yang maknanya tdk akan pernah. Hal itu terbukti dgn begitu luasnya penguasaan industri Yahudi menguasai dunia, juga berbagai perang yg dilancarkan utk memborbardir saudara kita di luar sana. Dan pada faktanya, sangat jarang kita melihat org Yahudi yg menyatakan diri utk mnjd mualaf.
  Namun pada kata 'النصارى’ diberikan huruf لا yg juga memiliki makna ‘tidak’ namun masih memiliki peluang lain, oleh karenanya kita banyak menemukan kaum Nasrani yang menyatakan keislamannya.
  Ayat ini sekaligus menunjukkan kepada kita siapa lawan kita sesungguhnya, sehingga kita tidak membenci Muslim yang menentang syariat, namun membenci sifat dan perbuatannya yang menentang syariat. Sehingga teguran dan dakwah yang kita berikan semuanya bertujuan utk mengembalikan saudara kita sesama Muslim ke jalan yang Mustaqim, bukan semata-mata karena kebencian.
  Maafkan nasihat dari manusia yang tidak sempurna ini...
   

Sabtu, 04 Agustus 2018

📖SIMPLY ARABIC-QUR'ANIC LEARNING (four-remake)


🔍Source: Mu’jam Mufashal fi Ulum al Balaghah, Mulakhos Qowaid Lughah Arabiyah
🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language)

Mengalahkan Ke-Agungan Allah?

  Pasti kita sudah hafal bunyi ayat dalam surat Al Fatihah 1-7. Surat ini dinamakan Al Fatihah sebagai pembuka surat yang lain dalam Al Qur'an yang senantiasa kita lantunkan di setiap rakaat sholat.

   Salah satu bunyi ayatnya : اياك نعبد واياك نستعين
   “Hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami mohon pertolongan”

   Lafadz اياك yang disebutkan ternyata mengandung studi kebahasaan yang mempengaruhi makna dan hikmah ayatnya.
Bila ditelisik lebih jauh, asal susunan kalimat yang semestinya adalah S+P+O, begitu pula bahasa Arab. Pada bunyi ayat ke-lima, kata menyembah diposisikan sebagai predikat, obyeknya adalah 'kamu’. Maka seharusnya bunyi kalimatnya نعبدك (kami menyembah Mu) نعبد sebagai P dan ك sebagai obyek.

   Namun kini posisi obyek justru dipindah mendahului predikatnya. Dalam disiplin ilmu sastra bahasa Arab (Balaghah-Ma’any) inilah yang disebut bab Qashr yg membahas ttg pengkhususan sesuatu dgn sesuatu. Lafadz نعبد menjadi maqshur atau mukhossos (yang dikhususkan) oleh lafadz اياك. Maka penghambaan ini menjadi mutlak milik Allah saja.

  Jadi kata اياك hanya mengacu pada satu obyek yaitu Allah SWT saja. 'Hanya kepada Mu kami menyembah’ penekanan kalimat 'hanya kepada Mu’ menunjukkan bahwa semestinya tak ada yg disembah selain Allah. Ironisnya, saat ini ummat Islam melafalkan ayat ini minimal 17x dalam sehari, tapi peghambaan kepada idolanya bahkan melebihi penghambaan nya kepada Allah.

  Sebut saja sang idola itu boy band B**, atau artis lainnya. Tergila2 dgn popularitas mereka, meski percuma saja, toh kita tak kan dpt apa2 dari mereka😥

   Allah lah yang memberikan kita hidup, dan kelak akan diminta pertanggungjawaban atas semua langkah kaki kita. Kemana ia mengarah, untuk apa ia dipergunakan, bagaimana ia dimanfaatkan, dsb.

  Ini hanya nasihat kecil, mengingatkan diri yg faqir dn kawan disana...

Rabu, 01 Agustus 2018

Merenungi Bulan Agustus, Perjuangan Kemerdekaan yang dibayar dengan Pesta Kebobrokan




    Menjelang perayaan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia sepanjang jalanan kota sudah dipenuhi umbul-umbul dan bendera merah-putih. Tak tanggung-tanggung persiapannya, setiap RT dan RW juga mulai mengadakan rapat pemasangan umbul-umbul dan bendera merah-putih di setiap rumah.
    Persiapan beragam agenda juga mulai dirancang, seperti upacara, lomba, karaoke, dan lain sebagainya. Tak lupa juga tabungan untuk membeli kembang api yang siap diluncurkan pada hari H peringatan kemerdekaan.
    Seolah bulan Agustus tahun ini semakin kelabu. Kasus-kasus bencana, kriminalitas, korupsi, dll datang bertumpuk. Meski wajah para pemimpin dan penguasanya sumringah, ternyata rakyatnya justru hidup penuh derita. Andai diberi tanda merah dalam setiap  kasus yang bercokol, niscaya hijaunya Indonesia hampir lenyap.
    Esensi ‘merdeka’ tak lagi terasa. Yang terjadi justru rakyat berbondong-bondong minta ganti presiden, bahkan seruan ganti sistem Demokrasi tak kalah tenar. Sebab telah nyata bagaimana demokrasi menyihir malaikat menjadi iblis dan penjilat. Perebutan kursi parlemen sudah menjadi tren tanpa melihat kemampuan wawasan dan kinerja untuk menata masa depan bangsa. Jangan ditanya, sudah pasti rakyat dijadikan tumbalnya.
Katanya NKRI harga mati! Tapi sudah banyak perusahaan BUMN yang diperjual-belikan. Rame-rame impor barang pangan seperti beras, gula, garam dengan alasan harganya lebih murah. Walhasil, petani lokal kelabakan. Hasil panennya tak laku di pasaran. Tak tahu makan apa untuk hari esok, bahkan hari ini pun rasa lapar susah payah ditahan.
Rezim ngotot impor garam 3,7 ton untuk 2018, 500 ribu ton beras, juga 1,2 juta ton gula hingga membuat 600 ribu ton gula petani lokal TIDAK LAKU. Catat! Ini pendzoliman yang anda sebut kebijakan adil. Benarkah kita telah dibutakan demokrasi?
Katanya menolak semua jenis ideologi, hanya Pancasila yang digunakan di negri ini. Bung, kemarin rakyatmu ada yang mati kelaparan. Hari ini ada yang bunuh diri karena kelaparan. Kemarin ada yang mencuri karena kelaparan, dan banyak penjara mewah untuk menampung perampok negara yang tidak pernah lapar. Mana pancasila mu sekarang?
Dahulu perumusan dasar negara ini dilatar belakangi kobaran semangat ber-syariat. Coba tengok buku sejarah lengkap yang tak pernah diajarkan di sekolah. Bagaiamana ulama dan pejuang kemerdekaan bercita-cita hidup dengan syariat Islam. Sekarang dakwah syariat malah disebut radikal. Bahkan dikata, Islam kaffah adalah sebab utama timbulnya radikalisme.
Jangan bangga mengibarkan merah-putih dengan iringan lagu Indonesia Raya, bila masih banyak bendera asing yang berkibar di tambang-tambang Indonesia.
Sejatinya kita sedang terancam, namun terus di nina-bobokkan dengan tipu daya rezim. Hingga ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’. Banyaknya kerusakan seolah hilang dengan video vlog blusukan daerah-daerah terpencil dan berita yang dibesar-besarkan media pendukung mereka.
Oh Agustus, entah mengapa air mataku tak dapat dibendung lagi.

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...