Rabu, 30 Januari 2019

Meluruskan Sengketa POLITIK dan OLAHRAGA




Oleh: Nida Husnia Ramadhani

Komite Paralimpik Internasional (IPC) mencabut status tuan rumah negri Jiran, Malaysia di Kejuaraan Renang Difabel Dunia 2019 yang akan dilaksanakan pada 29 Juli - 4 Agustus mendatang sebab menolak parisipasi atlet-atlet Israel. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman saat diwawancara pihak BBC HardTalk. Dalam kutipan wawancaranya ia mengatakan Malaysia menolak Israel atas alasan kemanusiaan setelah apa yang terjadi terhadap warga Palestina selama bertahun-tahun, dan secara tegas mengungkapakan “ Jika menjadi tuan rumah event internasional lebih penting daripada menjaga kepentingan saudara-saudari Palestina kami yang didzalimi berulang kali. Jika itu lebih penting, maka kami telah kehilangan kesadaran moral dan juga kompas moral”

PM Malaysia Mahathir Mohammad juga angkat bicara soal penolakan ini, “Kami punya hak untuk mengarahkan perasaan kami dan memilih kebijakan kami sendiri”

Pihak IPC mengaku kecewa terhadap sikap dan keputusan Malaysia yang dinilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap atlet negara tertentu, dan merupakan sikap yang tidak adil bila harus mencampurkan urusan politik dan olahraga.

Tak hanya IPC, Malaysia juga mendapat kecaman yang datang dari Partai Rakyat Sarawak Bersatu (SUPP). Melalui sekjennya, Datuk Bastian Ting mengungkapkan “Seharusnya olahraga itu diatas politik dan keputusan ini memiliki dampak pada citra Malaysia dan Sarawak selaku tuan rumah” Ia menambahkan “Ini merupakan keputusan politik. Padahal olahraga seharusnya dijauhkan dari politik”

Pemerintah merupakan jajaran penguasa yang memegang tampuk kekuasaan. Segala kebijakannya menjadi penting terhadap nama dan martabat negara yang didiaminya. Betapa kita tahu konflik Israel-Palestina masih belum menemui ujungnya. Sejak sekitar 1920 hingga kini, rakyat Palestina senantiasa mendapat siksaan fisik dan mental oleh bedebah Israel yang takut pada lemparan batu.
Tak dapat dipungkiri, sebagai sesama manusia utamanya sesama muslim pastilah wujud rasa empati minimal atas dasar kemanusiaan harusnya tumbuh. Berapa banyak mereka yang mengecam Israel tapi penguasanya telah disumpal oleh uang dan jaminan-jaminan kapitalistik oleh para kapitalis sehingga dunia diam tak bergerak.

Hari ini, bila kita mau berpikir sehat, pada hakikatnya Malaysia hanya melakukan tamparan kecil terhadap Israel dengan menolak keikutsertaan atletnya dalam ajang internasional. Malaysia tak hendak mengirimkan militernya ke tanah suci al-Quds atau mengirim bom fosfor untuk pasukan tentara Israel. Namun, dengan ini Malaysia telah dianggap berbuat diskriminasi dan telah ceroboh karena mencampur adukkan urusan politik dengan olahraga.

Bung, sudah berapa tebal rapor merah Israel dalam diskriminasi yang mereka lakukan terhadap warga Palestina? Berapa banyak jiwa yang terbunuh tanpa sebab pelanggaran hukum? Apakah karena kita dibodohi dengan makna politik sebagai panggung pembagian kekuasaan dan olahraga adalah kegiatan fisik, lalu keduanya tak punya korelasi?

Dalam sebuah buku berjudul Political Quotient, makna politik dijelaskan dalam pengertiannya secara bahasa bahwa politik merupakan serapan dari kata bahasa Inggris politic atau padanan katanya adalah policy, jauh sebelumnya diambil dari bahasa Yunani ‘polis’ yang dapat berarti kota atau negara-kota. Ensiklopedi digital wikipedia juga memberi definisi politik sebagai kata yang diambil dari bahasa Yunani untuk negara kota, polis.paling sering dipahami dala kaitannya dengan administrasi (pengaturan) pemerintahan. Dalam bahasa Arab kata politik berarti siyaasah yang diambil dari akar kata saasa yasuusu artinya mengatur.

Menurut syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam bukunya an Nidzam al Hukmi Fil Islam, siyasah/politik adalah pengaturan urusan rakyat/masyarakat/publik/ummat/bangsa, baik didalam maupun diluar negri dengan hukum-hukum tertentu dan dilakukan secara praktis oleh penguasa /pemerintah, dikontrol dan diawasi oleh rakyat/masyarakat/publik. Sehingga politik ini berkutat pada konsep penguasa (hukkam/sulthon); pengaturan urusan rakyat (riayah); penerapan aturan baik didalam maupun luar negri (tathbiq ahkam); dan koreksi serta kontrol rakyat (muhasabah)

Maka dari sini, event Kejuaraan Renang Difabel Dunia 2019 tentulah bukan sekedar event olahraga. Kembali mengacu pada makna politik sebagai pengaturan urusan rakyat baik didalam maupun luar negri, hal ini termasuk bagian yang diatur oleh politik. Tidak benar bila mengatakan bahwa urusan Palestina adalah perkara politik dan tidak berhak diikut andilkan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pihak pemerintah negara dalam bidang olahraga dunia. Kali ini Israel yang ditolak bahkan menyebut Malaysia sebagai negara yang telah terkena paham fanatisme-anti semitis. Namun atas nama kemanusiaan, perlakuan Israel terhadap Palestina sesungguhnya lebih dari  sekedar deskriminasi.

Satu hal yang tertinggal dan tak hendak dibahas diatas panggung debat politik ini adalah posisi kita sebagai sesama ummat Muslim. Al-Qur’an telah jelas menuliskan bahwa setiap Muslim, Mukmin adalah saudara bagi Muslim yang lainnya (Qs. Al Hujurat :10). Dalam kamus Qur’an kata ikhwah memliki definisi sebagai ‘yang berserikat dalam kelahirannya’ atau bisa disebut sebagai saudara kandung. Tentulah siapapun ummat Muslim, dibelahan dunia manapun mereka berada, adalah saudara kandung kita. Begitu pun dalam kasus ini seharusnya hal utama yang mendasari keputusan Malaysia, bukan asas kemanusiaan, tapi ketetapan syariat yang mutlak kebenarannya.

Dalam demokrasi dengan sekuler-liberal nya agama seolah aktivitas ritual ibadah yang tak bersangkutan dengan urusan duniawi. Bertentangan dengan itu, Islam justru mengatur segala perkara kehidupan mulai urusan remeh temeh hingga membangun kehidupan politik. Sehingga agama (Islam) yang mempunyai seperangkat sistem aturan politik inilah yang coba dikerdilkan oleh ideologi kapitalisme. Ketakutan luar biasa akan bangkitnya Islam (sebagaimana sejarah menuliskan dengan tinta emasnya akan mampu menguasai 2/3 dunia seperti sedia kala) menjadikan kapitalisme bersusah payah membongkar pasang macam-macam perangkat aturan yang dibuatnya sendiri.

Bersandar pada HAM dan kebebasan berekspresi, entah mengapa demokrasi justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri. Para pegiat LGBT selalu diatas namakan HAM dan bebas mengutarakan pendapatnya, namun bagaimana dengan negara konflik yang dibumi hanguskan tanpa dosa? Bahkan membelanya saja malah di judge fanatik anti semitisme. Inilah demokrasi yang senantiasa engkau puja dan puji.




Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...