Kamis, 09 Agustus 2018

Haru Biru Kota Jember Tinggalkan Nama 1000 Pesantren

Oleh : Nida Husnia R (Aktivis Mahasiswa Jember)

    ‘Bulan Berkunjung ke Jember’ adalah slogan yang menjadi nafas prestasi karnaval fashion Jember (JFC) hingga namanya bisa mewangi di kancah internasional. Berawal dari sebuah ide perayaan menyambut Hari Kemerdekaan, JFC menggebrak dunia karnaval yang diusung oleh desainer Dynan Fariz. Kali ini JFC ke 17 akan dilaksanakan pada 7-12 Agustus dengan tema ‘ASIALIGHT’.

    Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan Asialight berdekatan dengan tagline Asian Games sehingga JFC juga turut serta meramaikan semangat Asian Games 2018 dengan beragam kostum nuansa sejarah dan budaya Asia. 10 defile terpilih yang mewakili benua Asia diantaranya adalah lambang Kujang yang menjadi Pusaka Nusantara, Thailand dengan 1000 pagodanya, Shogun sebagai panglima para samurai di kerajaan kuno Jepang, dan lain sebagainya.

    JFC juga berhasil meraih beragam penghargaan sebagai Best National Costume pada 2014 di Polandia dan Jepang, 2015 di Amerika dan Polandia, dan 2016 di Filipina.

    Benarkah hal itu menjadi prestasi membanggakan bagi kota Jember?

    Menanggapi hal ini, ada sebuah pergeseran budaya yang disadari atau tidak, ternyata sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup rakyat Jember. JFC tak sekedar bicara masalah income yang menguntungkan bagi kota Jember, atau kebanggaan dengan hadirnya reporter asing yang meliput, sehingga kita memandang bahwa JFC tak ada salahnya, membuat jalanan macet sudah menjadi hal yang lumrah.

Namun bukankah dahulu kita mengenal Jember dengan nama ‘1000 Pesantren’ dimana budaya ngaji dan kajian itu menjadi biasa. Kini keberlangsungan JFC mengganti nama Jember dari ‘1000 Pesantren’ menjadi ‘Jember kota karnaval’ yang  juga mulai mengalihkan life style masyarakatnya. Setelah menjadi icon fashion dunia, Jember juga mulai menambah proyek-proyek mall berkelas.

Sebagai kota karnaval, Jember kemudian menggalakkan ajaran Islam moderat dimana kajian-kajian yang hendak diadakan harus dibatasi temanya agar tidak keluar dari unsur Islam moderat, yang mempersilahkan hidup dengan fashion dan fun tapi tetap melaksanakan rutinitas ibadah, sehingga yang melanggar aturan ini akan dinamai ‘radikal’. Bila ada sebuah kajian yang mengusung tema bahasan Islam Kaffah segera di-stop, karena masyarakat akan menyadari dampak liberasisasi.

Yang katanya menabung segudang prestasi tak kunjung membuat kondisi Jember membaik. Pada Juli lalu Polsek Bangsalsari menggrebek area judi sabung ayam di Gambiran, Curahkalong. Juga terjadi penggelapan dana talangan haji yang dilaporkan seorang warga kec. Sukorambi setelah mengalami kerugian 48 juta. Pada 2 Agutus juga tercatat penangkapan 2 tersangka mantan pejabat Jember dalam korupsi dana hibah yang menyebabkan kerugian negara sebesar 1.045 miliar.
Selain itu, JFC tidak menghabiskan dana yang sedikit, bahkan bila ingin menjadi bagian dari peraga kostum JFC harus turut mengeluarkan dana yang besar. Setelah itu, kostum JFC bila sudah tidak digunakan lagi akan dilelang dengan harga kisaran harga jutaan.

Sayang sekali Jember tak lagi dikenal sebagai kota santri, akhirnya gaya hidup bebas pun meracuni masyarakat terutama kaum mudanya. Ambisi menjadi model akhirnya muncul, dengan iming-iming berangkat ke berbagai kota dan negara untuk promo label ‘Jember kota karnaval’.

Mirisnya, JFC bahkan pantas untuk ditangisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...