Selasa, 18 September 2018


Matinya Adab dan Keadilan dalam Butir Pancasila
Oleh : Nida Husnia (Aktivis Mahasiswa)
    Huru hara perseteruan kubu pendukung calon presiden pada 2019 mendatang semakin runcing. Berawal dari trend kaos dengan tagar #2019gantipresiden hingga berhasil menghimpun jutaan masyarakat Indonesia yang memiliki cita-cita yang sama untuk menolak eksistensi Jokowi 2 periode.
    Hal itu disebabkan oleh bertambahnya polemik yang muncul di negri ini sejak kepemimpinan Joko Widodo. Mulai dari kasus korupsi politisi, impor bahan pangan, hingga inflasi dengan melemahnya rupiah di mata dollar Amerika. Berikut permasalahan harga barang juga mendorong para ibu untuk bergerak, ogah lagi berada dibawah kontrol kepemimpinan Jokowi.
    Disisi lain, ada mereka yang menghendaki pergantian secara sistemik. Tak cukup dengan ganti presiden dan rezim pemerintahannya, sistem demokrasi sebagai poros keberlangsungan tata kelola negara juga harus diganti. Sebab berulang kali menyodorkan nama-nama jagoan dalam kandidat kepresidenan tak jua mengubah derita rakyat dan memakmurkan kehidupan bangsa.
    Namun, lagi-lagi persekusi, sebuah sanksi semena-mena diberlakukan pada mereka yang disebut membuat makar dengan #2019gantipresiden apalagi bila bunyinya #2019gantisitem. Beberapa politisi membaca akan adanya bahaya yang muncul bila tagar ‘ganti sistem’ itu hidup, sebab ‘ganti sistem’ yang dimaksud tiada lain adalah Islam, sistem Islam yang ditegakkan melalui institusi yang dinamakan Khilafah.
    Maka, Khilafah berulang kali dimaki dengan kata-kata kotor. Sisanya yang lain menimpali dengan ceramah bahwa negri ini sudah aman dan damai sehingga jangan membuat kerusuhan dengan ide yang mengancam. Sedang aparat tak berkutik, bingung harus berbuat. Itulah yang tampak dalam video persekusi 2 pengguna motor saat diviralkan di media sosial.
    Sekali lagi, sebuah kelompok yang katanya mengusung ‘Islam’ paling damai justru berada di baris terdepan dalam beberapa aksi persekusi. Bangga mengatakan mereka yang paling pancasilais, mungkinkah mereka lupa dengan bunyi Pancasila ayat 2 : “Kemanusiaan yang adil dan beradab” ?
    Tengoklah berapa prosentase keadilan yang ditegakkan di negri ini. Saat ada 42 pejabat dari 45 yang korupsi di Malang, bagaimana mereka dijatuhi hukuman? Saat seorang ustadz hendak berceramah kemudian dibubarkan oleh satuan tapak suci Pagar Nusa, kepada siapa aparat keamanan berpihak? Saat seruan ganti sistem membumbung seantero Indonesia, sudah berapa orang yang ditenggelamkan karenanya?
    Sekarang mari bicara adab, mula-mula adab kepada sesama manusia. Pada 26 Agustus sebuah kasus datang dari seorang perempuan berjilbab yang dipaksa untuk melepas kaos #2019gantipresiden oleh sekelompok pria, perempuan itu menolak dan tetap dihardik hingga polisi datang menenangkan mereka.
    Kemudian video sekumpulan orang yang memaki pengendara motor yang mengenakan kaos #2019gantisistem dengan berkata “Ini Indonesia, bukan Arab”. Juga meneriakkan kata kotor “Khilafah t*****”. Sungguh mati akal pikiran mereka, karena tak lagi sadar bahwa yang dilawannya adalah Gusti Allah yang berkuasa membuat kakinya berdiri.
    Mari coba berbicara dengan nurani dan akal sehat, bahwa Khilafah adalah institusi negara yang didalamnya menerapkan Islam sebagai sistem hidup yang akan menjadi kontrol kegiatan masyarakat. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Islam adalah agama yang FINISH, sudah sempurna dan tak dapat ditawar, sudah lengkap dan tak perlu mencari selainnya, maka apa yang salah?
    Bukankah semakin salah bila kita, Muslim, namun mengambil jalan lain selain Islam untuk mengatur hidup kita?
    Dan kini topeng kemunikafikan itu mulai mengelupas. Mereka ingin menjaga negri dengan menggerogotinya, membangun akhlak karimah dengan ajaran sesukanya. Tak perlu sebut dirimu nasionalis, karena nyatanya perjuangan pahlawan bangsa kau hianati. Tak perlu teriak “aku Muslim” karena nyatanya syariat Islam kau benci setengah mati.
    Sesungguhnya kemenangan itu benar-benar dekat, sedekat waktu fajar muncul dari kegelapan.
   
    

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...