Rabu, 01 Agustus 2018

Merenungi Bulan Agustus, Perjuangan Kemerdekaan yang dibayar dengan Pesta Kebobrokan




    Menjelang perayaan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia sepanjang jalanan kota sudah dipenuhi umbul-umbul dan bendera merah-putih. Tak tanggung-tanggung persiapannya, setiap RT dan RW juga mulai mengadakan rapat pemasangan umbul-umbul dan bendera merah-putih di setiap rumah.
    Persiapan beragam agenda juga mulai dirancang, seperti upacara, lomba, karaoke, dan lain sebagainya. Tak lupa juga tabungan untuk membeli kembang api yang siap diluncurkan pada hari H peringatan kemerdekaan.
    Seolah bulan Agustus tahun ini semakin kelabu. Kasus-kasus bencana, kriminalitas, korupsi, dll datang bertumpuk. Meski wajah para pemimpin dan penguasanya sumringah, ternyata rakyatnya justru hidup penuh derita. Andai diberi tanda merah dalam setiap  kasus yang bercokol, niscaya hijaunya Indonesia hampir lenyap.
    Esensi ‘merdeka’ tak lagi terasa. Yang terjadi justru rakyat berbondong-bondong minta ganti presiden, bahkan seruan ganti sistem Demokrasi tak kalah tenar. Sebab telah nyata bagaimana demokrasi menyihir malaikat menjadi iblis dan penjilat. Perebutan kursi parlemen sudah menjadi tren tanpa melihat kemampuan wawasan dan kinerja untuk menata masa depan bangsa. Jangan ditanya, sudah pasti rakyat dijadikan tumbalnya.
Katanya NKRI harga mati! Tapi sudah banyak perusahaan BUMN yang diperjual-belikan. Rame-rame impor barang pangan seperti beras, gula, garam dengan alasan harganya lebih murah. Walhasil, petani lokal kelabakan. Hasil panennya tak laku di pasaran. Tak tahu makan apa untuk hari esok, bahkan hari ini pun rasa lapar susah payah ditahan.
Rezim ngotot impor garam 3,7 ton untuk 2018, 500 ribu ton beras, juga 1,2 juta ton gula hingga membuat 600 ribu ton gula petani lokal TIDAK LAKU. Catat! Ini pendzoliman yang anda sebut kebijakan adil. Benarkah kita telah dibutakan demokrasi?
Katanya menolak semua jenis ideologi, hanya Pancasila yang digunakan di negri ini. Bung, kemarin rakyatmu ada yang mati kelaparan. Hari ini ada yang bunuh diri karena kelaparan. Kemarin ada yang mencuri karena kelaparan, dan banyak penjara mewah untuk menampung perampok negara yang tidak pernah lapar. Mana pancasila mu sekarang?
Dahulu perumusan dasar negara ini dilatar belakangi kobaran semangat ber-syariat. Coba tengok buku sejarah lengkap yang tak pernah diajarkan di sekolah. Bagaiamana ulama dan pejuang kemerdekaan bercita-cita hidup dengan syariat Islam. Sekarang dakwah syariat malah disebut radikal. Bahkan dikata, Islam kaffah adalah sebab utama timbulnya radikalisme.
Jangan bangga mengibarkan merah-putih dengan iringan lagu Indonesia Raya, bila masih banyak bendera asing yang berkibar di tambang-tambang Indonesia.
Sejatinya kita sedang terancam, namun terus di nina-bobokkan dengan tipu daya rezim. Hingga ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’. Banyaknya kerusakan seolah hilang dengan video vlog blusukan daerah-daerah terpencil dan berita yang dibesar-besarkan media pendukung mereka.
Oh Agustus, entah mengapa air mataku tak dapat dibendung lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...