Senin, 10 September 2018


Membenci atau Menjaga
Oleh : Nida Husnia R. (Aktivis Mahasiswa Jember)

    Agustus lalu ceramah ustadz Abdul Somad dibatalkan di Jepara, hal itu kemudian beruntun pada pembatalan sejumlah agenda dakwah UAS di Jawa Tengah. Penolakan tersebut dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Mayong Cinta NKRI (AMMCN) dan Forum ASWAJA Nusantara (FAN) Jepara lantaran ceramah-ceramah UAS yang dinilai berpihak kepada ajaran Khilafah dan menggunakan simbol-simbol HTI.
    HTI jelas merupakan organisasi yang telah dilarang keberadaannya di Indonesia karena membawa ide yang dapat mengancam eksistensi Pancasila dan jiwa nasionalisme dalam semangat ber-NKRI. GP Ansor pun menilai bahwa ceramah UAS telah ‘ditunggangi’ organisasi radikal ini. Yaqut Cholil mengungkapkan bahwa dirinya dan GP Ansor merasa keberatan dengan simbol HTI yang digunakan dalam manajemen agenda UAS di pondok pesantren al Husna.
    Simbol HTI yang dimaksud tiada lain adalah panji tauhid liwa’ dan rayah.     Bendera hitam dengan tulisan tauhid berwarna putih ‘Laa ilaha illa Allah, Muhammad rasululullah’ dan bendera putih dengan tulisan serupa berwarna hitam.
    Tentang hal ini, Ibnu Abbas r.a telah berkata dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah :
كانت راية رسولله ص.م سوداء، و لواءه أبيض مكتوب عليه لا اله الاّ الله محمد رسول الله
Bendera Rasulullah itu berwarna hitam, dan panjinya berwarna putih, diatasnya tertulis : “ Laa ilaha illa Allah, Muhammad rasululullah”
Bendera tauhid jelas bukan merupakan lambang organisasi HTI, ia adalah bendera yang menjadi nadi perjuangan para sahabat dalam berperang dan menyebarkan dakwah Islam. Berdirinya liwa’ dan rayah telah mengangkat martabat kaum Muslim segabai ummat terbaik, kini tiadanya membuat ummat Muslim terpuruk bahkan ditenggelamkan oleh saudaranya.
    Ketakutan macam apa yang membayangi kaum Muslim terhadap keberadaan liwa’ dan rayah ini? Padahal ‘Tauhid’ adalah konsep utama dalam beriman. Menuhankan Allah saja, tidak yang lain. Meyakini Muhammad sebagai seorang Rasul, bukan yang lain. Syahadat yang kita ucapkan setiap hari dalam sholat, yang dengannya sesungguhnya kita berazzam untuk menjadi taat sehidup semati.
    Saat bersumpah bahwa Allah adalah Tuhan yang satu dan Muhammad adalah Rasul penutup anbiya’, detik itu sesungguhnya kita berjanji akan patuh pada perintahNya yang termaktub dalam al-Qur’an, akan mengikuti syariatnya yang dibawa oleh Rasul Muhammad. Bahkan keranda yang akan mengantar bangkai kita pun ditutupi dengan kain bertuliskan “Laa ilaha illa Allah, Muhammad rasululullah”
    Membatalkan agenda da’i sebab sebuah asumsi yang tak terbukti hanya menimbulkan bara dan dengki. HTI sudah dibubarkan, bahkan pemerintah harus bersikeras mengeluarkan PERPPU untuknya, namun kini yang ada malah dugaan ‘ditunggangi’ yang kemudian menjadikan liwa’ dan rayah sebagai buktinya. Maka, atas dasar apa pembatalan ini dilakukan? Menjaga NKRI atau benci simbol Islam?
    Teruntuk saudara yang aku cintai,
    Dalam hatimu sebenarnya engkau goyah, berulang kali mengadili, merampas, membatalkan seluruh agenda yang diduga ‘ditunggangi’ oleh organisasi yang kau anggap menjadi pengusung ide terlarang. Organisasi yang dahulu selalu nampak aktivitasnya melalui keberadaan liwa’ dan rayah. Apakah engkau lupa, bahwa ke Islam-an mu terkunci dengan Tauhid nya?  Bahwa ke Islam-an mu bisa gugur karena nya? Bahwa tiket surga yang engkau klaim hanya milikmu bisa lenyap karenanya.
    Teruntuk saudara yang aku cintai,
    Liwa’ dan rayah bukan milik HTI, sebab kalimat Tauhid juga tak hanya diucapkan orang-orang HTI. Ia adalah panji yang Rasul dan para sahabat perjuangkan, yang Ali bangga membawanya berlari ditengah kerumunan musuh, yang Umar gemetar menerima tugas kepemimpinan dalam negara yang ditegakkan Rayah diatas tanahnya.
Yang kini, engkau mati-matian menguburnya, padahal namamu tersemat sebagai seorang ‘Muslim’.


    

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...