Rabu, 22 Agustus 2018

📖 ARABIC-QUR'ANIC LEARNING (six)
🔍Source: Jurnal tafsir, Syarah Alfiyah Ibnu Malik juz 1&2, Lesikologi Bahasa Arab, Mu'jam Mufrodat alfazil Qur'an
🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language)


Samakah Wasath dengan Moderat?

    Kata wasath/wasathiyah dan moderat sudah tak asing lagi di telinga kita. Banyak sekali wacana dan forum diskusi yang berbicara tentang Islam wasathiyah yang kemudian di terjemahkan istilahnya menjadi Islam moderat. Dua kata ini sekilas sama dalam terjemahnya, bahwa ketika wasath bermakna tengah maka moderat adalah kata yang pas untuk dihadirkan sebagai sinonimnya.

    Mempelajari kata wasath dan moderat baiknya terlebih dahulu memperhatikan ‘madlul/acuan yang dimaksud’ sebagaimana yang terdapat dalam pembelajaran ilmu semantik. 

    Dalam semantik kita akan mengenal ‘semantic triangle’ atau mutsallats al-ma’na yaitu segitiga bermakna yang menghubungkan tiga aspek dasar: kata, pikiran, dan acuan. Bahwa setiap kata yang didengar manusia akan masuk kedalam otak sebagai proses untuk mendapatkan ‘acuan’ kata yang dimaksud. Misalnya, si A berkata : “Ambilkan kapur!”, maka ketika si B mendengar kata ‘kapur’ kata itu masuk kedalam otaknya dan muncullah bayangan benda seukuran bolpoin, berbentuk tabung, berwarna putih, dsb. 

    Setiap kata pasti memilki acuan yang dimaksud tergantung apakah sudah ada pengetahuan sebelumnya tentangnya atau tidak. Bila selama ini menyamakan antara wasath dan moderat, berarti info yang didapatkan sebatas pemaknaan kata saja, tidak masuk kedalam beragam definisi dan penjabaran ulama. 

    Hal ini perlu kita perhatikan, bahwa ummat Muslim tak boleh terjebak dengan kesimpulan instan. Hingga kemudian membebek tanpa sebab musabab.

    Sebagian besar orang mempercayai jati diri seorang Muslim sebagai seorang moderat melalui ayat dalam surat Al-Baqoroh : 143. Ayat tersebut berbunyi (و لقد جعلناكم أمّة وسطاً)  “dan Kami telah jadikan kalian sebagai ummat pertengahan” yaitu ummat yang tidak ekstrim kiri dan kanan, ramah dan toleran, serta tidak kaku dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an.

Kata wasathan dijelaskan dalam kitab Mu’jam mufrodat yang di dasarkan pula pada bunyi ayat sebelumnya bahwa umat Islam sebagai ummat pertengahan  adalah ummat yang tdk memiliki sifat tafrith (kaum Yahudi yg membunuh para nabinya)  dan ifrath (kaum Nasrani yang menjadikan  nabinya sebagai  Tuhan) Justru Islam menyeru kepada kesaksian bahwa Allah adalah satu2nya sembahan dan Muhammad adalah Rasul. Dengan begini makna wasath adalah wujud ketaatan.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan kata ‘wasathan’ yang terdapat dalam ayat ini sebagai adil dan pilihan. Bahwa ummat Muslim adalah ummat yang adil dan merupakan ummat pilihan yang kelak akan menjadi saksi bagi ummat yang lain di yaumil akhir. Imam Syafi’i dalam kitabnya ar-Risalah juga menyampaikan bahwa ‘wasathan’ berarti taat. Sebab kalimat selanjutnya dalam ayat itu berbunyi 
(وما جعلنا القبلة الّتي كنت عليها إلاّ لنعلم من يتبع الرسول ممّن ينقلب عليه)  
Pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram tak lain hanya untuk menguji apakah kaum Muslim taat pada Rasul-Nya atau tidak. Berbuat adil adalah bentuk ketaatan kepada Allah, tidak adil maka tidak taat. Begitulah kesimpulannya. 

Wasath dalam ayat ini tidak berposisi sebagai maf'ul fii atau dzaraf yang artinya diantara (dua sesuatu), meskipun ia merupakan lafadz dzaraf. Namun keadaan i’rab manshubnya dikarenakan ia menjadi na’at/kata sifat yang bertujuan memberikan pujian bagi kata yang disifatinya, dalam alfiyah disebutkan :
فانصبه بالواقع فيه : مظهرا # كان، و إلا فانوه مقدرا

Sehingga ‘wasath’ juga tak bisa dimaknai ‘tengah’ yang berarti diantara dua kubu. Imam Qurthubi dalam menafsirkan ayat ini berkata bahwa bukan termasuk ‘wasath’ atau pertengahan (lafadz yang disebutkan dalam ayat tersebut) apabila berada pada sesuatu diantara dua sesuatu, misalnya : an-Nur 31 ‘perintah memakai kerudung yang dijulurkan sampai ke dada’ dan ancaman bagi yang menampakkan aurat, kemudian kita mengambil jalan tengah dengan tetap memakai kerudung meski  tidak sesuai dengan kriteria dalam qs. an-Nur 31.

Selain itu kata 'wasathan’ hanya bersandar pada kata 'ummat’ bukan agama. Yang disifati wasath adalah ummat, bukan agamanya. Dn semakin salah lah penyebutan Islam wasathiyah karena akan bertentangan dgn perintah masuk Islam secara Kaffah, mengambil seluruh hukum dan konsekuensinya. Islam pun tak mengenal pilihan tengah2 dlm menjalankan hukum-hukum Nya.

Sedangkan moderat adalah kata yang diambil dari bahasa Latin, yang kemudian dalam Oxford didefinisikan pengertiannya ‘not radical or excessively right or left wing’
Hohoo… moderat tdk bisa d sandingkan dgn wasath ya, yuk belajar
Jadi, jgn gagal paham ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Opini

Festival HAM Jember

Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...