https://www.mediaoposisi.com/2018/07/ilusi-negri-makmur-dan-realita-pangan.html
Oleh: Nida Husnia
(Mahasiswa IAIN Jember)
Mediaoposisi.com- Lagi-lagi emak-emak mengernyitkan dahi. Kemarin sudah tak jadi makan sambal karena harga cabai naik, sekarang telur pun tak bisa dijangkau oleh kantong ekonomis.
Pada awal pekan memasuki bukan Juli harga cabai terus melonjak seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, harga cabai rawit merah yang pada awalnya berkisar antara 45-50 ribu kini bahkan mencapai nominal 65 ribu. (liputan6.com)
Hal serupa juga terjadi di Sukabumi. Cabai lokal merah mengalami kenaikan dari 34 ribu menjadi 50 ribu per kilogram. Salah seorang pedagang berpendapat bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh buruknya cuaca sehingga menghambat proses panen petani.(radarsukabumi..com)
Termasuk dari bahan pangan yang banyak dikonsumsi, telur juga sedang mengalami kenaikan harga. Sebagaimana dikutip dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) pada 10 Juli 2018, harga tertinggi telur ayam yang terjadi di Maluku Utara sebesar 37.850 ribu per kg, di pasar Pal Merah Jakarta harga telur merangkak menjadi 30 ribu. (viva.co.id)
Realita memang seringkali berseberangan dengan ekspektasi. Indonesia selalu menggambarkan dirinya dengan kemakmuran hasil panen dan kemudahan akses pangan masyarakatnya. Seperti acara-acara kuliner di televisi yang salah satu tujuannya adalah menunjukkan betapa uniknya olahan makanan di Indonesia, padahal dibalik layar kaca itu jutaan rakyat miskin tergelepar kelaparan.
Bila anda sering menonton televisi saat mendekati waktu pemilu, pilkada, atau pilpres. Maka akan banyak iklan yang bernarasi seolah para calon itu turun lapangan, berbaur bersama para petani dan menunjukkan betapa makmurnya Indonesia, dengan hasil padi melimpah yang diolah menjadi beras.
Pada faktanya, pemerintah justru lebih mencintai ‘impor beras’ yang mengakibatkan beras lokal mangkrak tidak laku.
‘Negri makmur’ hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan untuk membohongi publik. Pada awalnya Indonesia memang menjadi rebutan penjajah karena sumber daya alamnya yang menggiurkan.
Namun perlawanan terhadap penjajah untuk mengembalikan tanah Indonesia tak serta merta membuat rakyatnya kenyang, karena kini yang terjadi malah rezim dengan mudah menyerahkan pengeolaan migas, tambang dan lain sebagainya kepada asing.
Yang terjadi akhirnya pengangguran dimana-mana, data kemiskinan yang sebenarnya tak kunjung berkurang. Parahnya, pemerintah dengan ringan menetapkan kategori miskin bagi mereka yang pendapatannya dibawah 350 ribu dengan rumah yang atap dan dindingnya tidak permanen. Oleh karenanya orang miskin yang memenuhi kategori itu bisa mendapatkan subsidi.
Data orang miskin hanya laris dicari saat menjelang pilkada. Dengan dalih mereka telah melakukan kemajuan dalam kerjanya. Kemudian menyiapkan bantuan pangan bagi rakyat miskin dan ‘sangu’ agar sudi memilih mereka.
Jangan sebut Indonesia sebagai negri makmur, karena rakyatnya bahkan susah membeli cabainya sendiri, harga gas elpiji 3 kg sudah diluar kewajaran, harga berasnya menjadi lebih mahal dibanding beras impor, telur ayam pun merangkak naik, susu kental bisa tak mengandung susu, seikat sayur mayur hanya bisa jadi porsi kecil berdua.
Merubah kebijakan rezim adalah hal yang mustahil dilakukan bila tidak melawan sistem yang mengitarinya.
Karena demokrasi kapitalis mewajarkan kenaikan harga terjadi tanpa harus mempertimbangkan kondisi rakyat. Apalagi pemerintah terikat dengan hutang luar negri yang mengharuskan mereka tunduk pada setiap kebijakan yang diciptakan Barat agar hutang terus diberikan.
Bahkan sangat mungkin menjadi budak-budak asing karena mereka telah menanamkan sahamnya di proyek pembangunan di Indonesia. Mirisnya sebuah negri kaya yang dipimpin oleh pemerintahan boneka, sehingga negri itu sampai tak mampu memberi makan rakyatnya.[MO/sr]
Kamis, 12 Juli 2018
Disebut Ideologi Impor : Khilafah ditentang, Kapitalisme disandang
Oleh : Nida Husnia
(Mahasiswa IAIN Jember)
https://www.mediaoposisi.com/2018/07/disebut-ideologi-impor-khilafah.html
Mediaoposisi.com- Mengingat merebaknya kasus radikalisme di Indonesia, Lembaga pendidikan Ma’arif PBNU menggelar Focus Group Discussion pada 5 Juli 2018 di gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat.
FGD tersebut bertema “ Penguatan Kurikulum 2013 dalam Menumbuhkan Islam Wasathiyah”. Pengajaran Islam moderat ini dicanangkan untuk menangkal paham-paham radikalisme dan untuk menjaga anak bangsa dari paham anti-nasionalisme.
Perwakilan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang, Kemendikbud, M Hamka yang turut hadir dalam FGD juga mengatakan dukungannya kepada upaya menumbuhkan semangat ber-Islam wasathiyah.
Begitu pula Sekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan nilai-nilai Islam wasathiyah adalah nilai universal yang tidak bertentangan dengan agama lain, sehingga pelajar agama lain bisa mendapatkan pelajaran berkaitan dengan nilai-nilai Islam wasathiyah. (republika.co.id)
Bahkan untuk memperkenalkan Islam wasathiyah dikalangan pelajar, mulailah disosialisasikan senam Islam Nusantara di Semarang, Jawa Tengah. Senam tersebut dipadukan dengan gerakan shalat yang nantinya akan membuat masyarakat mencintai sholat sebab gerakannya yang mampu menyehatkan badan.
Wacana Islam wasathiyah sebenarnya mulai ramai digaungkan sejak ideologi Khilafah ramai dibicarakan.
Para pengusung Islam Moderat sepakat menolak keberadaan Khilafah yang disebut mereka sebagai ideologi impor karena mampu mengancam eksistensi ideologi Pancasila yang telah finish digunakan di Indonesia. Terlebih lagi mereka menilai Khilafah sangat bertentangan dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang telah berkembang di Indonesia.
Namun benarkah kita sudah ber-ideologi Pancasila? Mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Dan hidup sesuai dengan karakter butir-butir Pancasila? Sebut saja sila keempat : “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.
Salah satu dari butir pengamalan yang terkandung dalam sila keempat adalah “mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat”. Pada realitanya, ketika pemerintah getol mendirikan proyek tol dimana-mana, proyek tersebut memakan biaya yang sangat besar seperti proyek tol trans Sumatera dengan 8 ruas yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar 80 trilyun hingga 2019 mendatang.
Padahal jalan tol bukan menjadi kebutuhan dasar bagi rakyat khusunya di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan merebaknya problematika ekonomi, sosial, pendidikan dll.
Seperti ketika harga BBM dan elpiji 3 kg melesat, subsidi keduanya dicabut dengan alasan agar kuota bagi si Miskin tepat sasaran. Namun pencabutan subsidi ini tak kunjung mengurangi hutang Indonesia. Justru Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negri (ULN) Indonesia naik 8,7 % menjadi 5.425 T. Beginikah pengamalan butir Pancasila?
Hal ini malah menunjukkan kepada kita wajah Kapitalisme. Kita dapat mencium aura tajam ideologi Kapitalisme yang sangat kental dengan diplomasi berbentuk hutang, ketenagakerjaan, perdagangan, dll. Dimana kapitalisme sarat akan unsur imbalan atau kemanfaatan hanya bagi kedua belah pihak yang bersangkutan tanpa menghiraukan imbasnya bagi rakyat.
Namun perjalanan ideologi Kapitalisme buatan Eropa ini terlanjur meresap dalam tubuh bangsa Indonesia, sehingga seolah ia bukanlah idelogi impor. Ia justru diterima dan digunakan dengan senang hati, meski harus menginjak hak hidup orang lain.
Dan yang terjadi Pancasila malah mati dalam Kapitalisme, beda pandangan langsung dipersekusi, penipuan besar-besaran terjadi kepada rakyat. Gula rasa susu ternyata sudah lama dipasarkan.
Nyatanya kapitalisme lebih dapat diterima oleh Islam wasathiyah. Islam moderat yang khas akan sifat damai nya tak serta merta menolak ide Barat untuk turut bercokol di Nusantara.
Namun Khilafah dengan konsep Islamnya yang hendak menyelamatkan negri dari penjajahan, memperbaiki pengelolaan migas agar bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat, malah ditolak mentah-mentah.
Khilafah dengan konsep Islamnya tegas mengatakan riba adalah haram sesuai dengan pedoman Qur’an dan sunnah. Tapi Islam moderat membolehkan riba dengan porsi yang kecil, dan menolak hukum riba yang disamakan dengan menzinahi ibu kandungnya, karena tak dapat dipungkiri keberadaan Bank telah menjadi nadi masyarakat. Dan kaum kapitalis tertawa dibelakang.
Islam moderat sesungguhnya bertentangan dengan esensi syariat Islam itu sendiri. Lebih tepatnya, Islam wasathiyah digunakan untuk menandingi penerapan Islam kaffah dalam kekhilafahan. Dan grand project terdekat Islam moderat adalah masuk dalam kurikulum pendidikan untuk menanamkan Islam moderat dalam diri setiap peserta didik.
Sebagai ummat terpilih, kita harus cerdas menyikapi hal ini. Mempelajari kembali Islam wasathiyah, sesuaikah ia dengan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin?[MO/sr
(Mahasiswa IAIN Jember)
https://www.mediaoposisi.com/2018/07/disebut-ideologi-impor-khilafah.html
Mediaoposisi.com- Mengingat merebaknya kasus radikalisme di Indonesia, Lembaga pendidikan Ma’arif PBNU menggelar Focus Group Discussion pada 5 Juli 2018 di gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat.
FGD tersebut bertema “ Penguatan Kurikulum 2013 dalam Menumbuhkan Islam Wasathiyah”. Pengajaran Islam moderat ini dicanangkan untuk menangkal paham-paham radikalisme dan untuk menjaga anak bangsa dari paham anti-nasionalisme.
Perwakilan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang, Kemendikbud, M Hamka yang turut hadir dalam FGD juga mengatakan dukungannya kepada upaya menumbuhkan semangat ber-Islam wasathiyah.
Begitu pula Sekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan nilai-nilai Islam wasathiyah adalah nilai universal yang tidak bertentangan dengan agama lain, sehingga pelajar agama lain bisa mendapatkan pelajaran berkaitan dengan nilai-nilai Islam wasathiyah. (republika.co.id)
Bahkan untuk memperkenalkan Islam wasathiyah dikalangan pelajar, mulailah disosialisasikan senam Islam Nusantara di Semarang, Jawa Tengah. Senam tersebut dipadukan dengan gerakan shalat yang nantinya akan membuat masyarakat mencintai sholat sebab gerakannya yang mampu menyehatkan badan.
Wacana Islam wasathiyah sebenarnya mulai ramai digaungkan sejak ideologi Khilafah ramai dibicarakan.
Para pengusung Islam Moderat sepakat menolak keberadaan Khilafah yang disebut mereka sebagai ideologi impor karena mampu mengancam eksistensi ideologi Pancasila yang telah finish digunakan di Indonesia. Terlebih lagi mereka menilai Khilafah sangat bertentangan dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang telah berkembang di Indonesia.
Namun benarkah kita sudah ber-ideologi Pancasila? Mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Dan hidup sesuai dengan karakter butir-butir Pancasila? Sebut saja sila keempat : “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.
Salah satu dari butir pengamalan yang terkandung dalam sila keempat adalah “mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat”. Pada realitanya, ketika pemerintah getol mendirikan proyek tol dimana-mana, proyek tersebut memakan biaya yang sangat besar seperti proyek tol trans Sumatera dengan 8 ruas yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar 80 trilyun hingga 2019 mendatang.
Padahal jalan tol bukan menjadi kebutuhan dasar bagi rakyat khusunya di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan merebaknya problematika ekonomi, sosial, pendidikan dll.
Seperti ketika harga BBM dan elpiji 3 kg melesat, subsidi keduanya dicabut dengan alasan agar kuota bagi si Miskin tepat sasaran. Namun pencabutan subsidi ini tak kunjung mengurangi hutang Indonesia. Justru Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negri (ULN) Indonesia naik 8,7 % menjadi 5.425 T. Beginikah pengamalan butir Pancasila?
Hal ini malah menunjukkan kepada kita wajah Kapitalisme. Kita dapat mencium aura tajam ideologi Kapitalisme yang sangat kental dengan diplomasi berbentuk hutang, ketenagakerjaan, perdagangan, dll. Dimana kapitalisme sarat akan unsur imbalan atau kemanfaatan hanya bagi kedua belah pihak yang bersangkutan tanpa menghiraukan imbasnya bagi rakyat.
Namun perjalanan ideologi Kapitalisme buatan Eropa ini terlanjur meresap dalam tubuh bangsa Indonesia, sehingga seolah ia bukanlah idelogi impor. Ia justru diterima dan digunakan dengan senang hati, meski harus menginjak hak hidup orang lain.
Dan yang terjadi Pancasila malah mati dalam Kapitalisme, beda pandangan langsung dipersekusi, penipuan besar-besaran terjadi kepada rakyat. Gula rasa susu ternyata sudah lama dipasarkan.
Nyatanya kapitalisme lebih dapat diterima oleh Islam wasathiyah. Islam moderat yang khas akan sifat damai nya tak serta merta menolak ide Barat untuk turut bercokol di Nusantara.
Namun Khilafah dengan konsep Islamnya yang hendak menyelamatkan negri dari penjajahan, memperbaiki pengelolaan migas agar bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat, malah ditolak mentah-mentah.
Khilafah dengan konsep Islamnya tegas mengatakan riba adalah haram sesuai dengan pedoman Qur’an dan sunnah. Tapi Islam moderat membolehkan riba dengan porsi yang kecil, dan menolak hukum riba yang disamakan dengan menzinahi ibu kandungnya, karena tak dapat dipungkiri keberadaan Bank telah menjadi nadi masyarakat. Dan kaum kapitalis tertawa dibelakang.
Islam moderat sesungguhnya bertentangan dengan esensi syariat Islam itu sendiri. Lebih tepatnya, Islam wasathiyah digunakan untuk menandingi penerapan Islam kaffah dalam kekhilafahan. Dan grand project terdekat Islam moderat adalah masuk dalam kurikulum pendidikan untuk menanamkan Islam moderat dalam diri setiap peserta didik.
Sebagai ummat terpilih, kita harus cerdas menyikapi hal ini. Mempelajari kembali Islam wasathiyah, sesuaikah ia dengan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin?[MO/sr
Langganan:
Komentar (Atom)
Baca Opini
Festival HAM Jember
Hari ini Jember mjd tuan rumah dlm agenda yg d beri judul "Festival HAM" dan terdiri dari beberapa sesi diskusi. Tepatnya pd p...
-
Oleh : Nida Husnia Mediaoposisi.com- Topik Khilafah saat ini telah menjadi buah bibir. Mengundang pro kontra dikalangan tokoh dan masy...
-
🔍Source: Mu’jam Mufrodat Alfadzil Qur'an 🎓By : al-faqir Nida Husnia (student of Education of Arabic Language) Antara تلاوة dan قرا...
-
Oleh : Nida Husnia Mediaoposisi.com- Sepanjang Mei 2018 Indonesia diramaikan dengan berbagai kasus teror. Berawal di Mako Brimob, Depok...

